Sabtu, 20 September 2014

Gerbang Musibah


أي مصيبة هذه...؟
...دخلت بوابة الجامعة جاهلا متواضعا
...و بعد سنوات
...خرجت منها جاهلا متكبرا
...نعم...المصيبة...ليس من لا يقبل في الجامعة
...ولكن من لا يوفق الله في طلب العلم فهي مصيبة فوق مصيبة
...إعلم رحمك الله...أن العلم بالتوفيق لا بالمكان
...ادعو الله التوفيق في طلب العلم
...الإخلاص في توفيق الله...و ليس في الجامعة


Musibah macam apakah ini...?
Ku melangkah memasuki gerbang universitas dalam keadaan bodoh dan merasa rendah diri...
Namun setelah beberapa tahun...
Ku melangkah keluar darinya dalam keadaan tetap bodoh namun menyombongkan diri...
Ya...musibah...bukanlah tidak diterimanya di universitas...
Akan tetapi siapa yang tidak diberi taufiq oleh Allah dalam menuntut ilmu, itulah musibah melebihi musibah lain...
Sadarilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa ilmu didapat dengan taufiq-Nya, bukan karena tempat belajar...
Maka mintalah taufiq-Nya dalam menuntut ilmu...
Karena keikhlasan ada pada taufiq Allah, bukan universitas tertentu...

Disadur dari berbagai sumber
------------------------------------------------------------------------------


Setiap tahunnya ribuan siswa-siswi lulusan SMA/sederajat merasakan getir pahit kekecewaan tidak lulus di universitas idaman. Depresi, frustasi, bingung tak tahu apa yang akan dilakukan, putus asa pun hinggap di benak.
Semua rencana yang telah tersusun rapi akhirnya rusak berantakan.
Seluruh daftar keinginan yang akan dilakukan setelah diterima pun terhapus oleh kekecewaan.
Harapan dan asa yang terkumpul selama ini akhirnya harus terbang tertiup berhamburan.
Musibah...musibah...musibah...

Kontras dengan hal itu, ribuan siswa-siswi lainnya mereguk manis kepuasan menjadi mahasiswa-mahasiswi di universitas idaman. Gembira, bahagia, puas dengan apa yang mereka dapatkan. Sampai-sampai lupa bersyukur bahwa itu merupakan nikmat Allah ta'ala yang diberikan.

Masuk gerbang kampus dengan bangga, mengenakan nama almamater universitas yang diimpikan, menyandang gelar baru dari hanya "siswa" menjadi "mahasiswa".
Melihat senior-senior semester atas merasa ciut diri, seakan diri ini ga punya ilmu apa-apa lagi.
Merasakan suasana baru, bebas, seakan baru keluar dari penjara yang bernama sekolah.
Nyatet materi atau nggak dosen ga peduli, masuk studi cuma buat absen doang ga ada yang ngurusi, ngerjain tugas pun akhirnya cuma bisa copas temen sendiri.
Sampai akhirnya lupa diri....

Waktu berlalu dan ga terasa udah menyandang gelar es satu...
Keluar gerbang kampus bagaikan profesor nomer satu...
Padahal ya...nilai di ijazah cuma segitu-gitu...
Ah, yang penting lulus dulu...katanya begitu...

Sampai di masyarakat bagaikan tak berilmu...
Ditanya masalah ini itu jawabnya nanti dulu...
Alasan seabrek padahal sebenernya gak tahu...
Sampai akhirnya ngomong seenaknya ga pake ilmu...
Dan akhirnya menyesatkan orang tanpa ragu-ragu...

Musibah...musibah melebihi musibah lain...

Bagusnya universitas ga menjamin bagusnya lulusan. Lulusan universitas nomer satu bisa saja kalah saing dengan yang ga masuk universitas.
Karena yang menentukan bukan hanya tempat belajar yang bagus, namun lebih ditentukan dari barokah ilmu yang didapat.
العلم بالتوفيق لا بالمكان
Al-Ilmu bittaufiq laa bil makaan
Ilmu itu diraih karena taufiq bukan hanya karena tempat belajar
Ilmu sedikit namun berbarokah itu lebih banyak manfaatnya, apalagi kalau ilmunya banyak dan berbarokah lebih mantap lagi!
Lalu bagaimana supaya dapat barokah ilmu? Mintalah taufiq kepada Allah!
Terus bagaimana supaya diberi taufiq dalam menuntut ilmu? Banyak! Berdo'a, ikhlas mengharap ridho Allah, ga mengharap pujian maupun jabatan, memperbanyak ketaatan, meninggalkan kemaksiatan, dan lain sebagainya.

Jangan sampai usaha keras menuntut ilmu tak terbayar...
Siang malam belajar tapi ilmu ga keluar...
Cuma gara-gara cara menuntut ilmu yang ga benar...
Mengandalkan nama universitas yang tenar...

Sabtu, 13 September 2014

Catatan Untuk Pelamar Beasiswa UIM

Catatan ini diperuntukkan bagi para penuntut ilmu yang mendambakan belajar ilmu syar'i di tanah nabi.

Gerbang Pintu Masuk UIM 

Bagi para penuntut ilmu syar'i atau biasa dikenal dengan ilmu agama, tentu nama Universitas Islam Madinah (atau dikenal juga Islamic University of Madinah) sudah tak asing lagi di telinga. Sebuah Universitas Islam terbesar di dunia dengan mahasiswa yang berasal dari lebih 130 negara. 

Sekilas tentang Universitas Islam Madinah, ia merupakan universitas negeri di Arab Saudi yang bernaung secara resmi dibawah departemen pendidikan Arab Saudi. Didirikan pada tahun 1961 di kota suci Madinah Al Munawwaroh, di lereng Wadi Aqiq yang terletak di arah barat dari masjid nabawi. UIM memiliki 5 fakultas secara umum : Syari'ah, Qur'an, Dakwah/Ushuluddin, Hadits, dan Bahasa Arab.

Gedung Fakultas Syari'ah ( Gedung fakultas lain modelnya ga jauh berbeda (: )


Kelebihan UIM dari sisi letaknya yaitu di kota nabi, alias Madinah. Tempat dimana Rasulullah pernah tinggal, mendapat wahyu, mendirikan syariat agama Islam. Maka bisa dikatakan bahwa belajar ilmu agama di kota Madinah ibarat mereguk air langsung dari sumbernya. Kemudian dari sisi tenaga akademis bahwa UIM memiliki tenaga pengajar dari berbagai ulama kota Madinah yang mumpuni. Lalu dari sisi biaya, UIM menawarkan beasiswa penuh (full scholarship) bagi seluruh mahasiswanya. Mulai dari living-cost, akomodasi, biaya buku, sampai tiket pulang-pergi ke negara asal semua ditanggung oleh pihak kampus. Jadi bisa dibilang gratis 100% apabila sudah diterima sebagai mahasiswa UIM. Maka tak heran kalau UIM merupakan salah satu destinasi favorit bagi para penuntut ilmu agama.

Cara pendaftaran ke UIM dilakukan secara online di situs resminya : http://admission.iu.edu.sa/ Tidak perlu khawatir tidak bisa berbahasa Arab karena disediakan pula  terjemahnya dalam bahasa lain seperti Inggris dan Indonesia. Kemudian ikuti arahan yang diperintahkan.

Dokumen-dokumen yang diperlukan untuk mendaftar
1. Ijazah SMU/MA atau yang sederajat.
2. Transkrip Nilai (biasanya sudah tertera di ijazah).
3. Sertifikat Kelakuan Baik (biasa dikenal dengan SKCK).
4. Akte Kelahiran.
5. Paspor. (penting! masa mau keluar negeri ga pake paspor?)
6. KTP.
7. Foto berwarna terbaru ukuran 4x6 (tanpa kacamata, tanpa penutup kepala, background putih).
8. Laporan medis dari klinik kesehatan resmi, yang menyatakan sehat panca indra dan bebas dari penyakit menular.
9. Surat keterangan dari lembaga islam di negara asal atau dari 2 tokoh islam yang menjelaskan bahwa calon mahasiswa adalah Muslim yang menjaga shalat 5 waktu dan berakhlak mulia (atau lebih mudahnya adalah surat rekomendasi).
10. Sertifikat masuk Islam, bagi yang Islamnya tidak dari lahir.

- Jika ada kesalahan pada data-data inti pemohon di dokumen asli (seperti: nama, tempat, dan tanggal lahir), maka diharapkan untuk membenarkan semua kesalahan itu di lembaga yang berwenang, sebelum mengirimkannya ke pihak universitas, karena ada aturan di kampus yang melarang untuk merubah data-data inti setelah menerima calon mahasiswa.
- Pemohon harus menerjemahkan semua dokumen yang tidak berbahasa Arab dengan terjemahan bahasa Arab yang telah disahkan oleh kantor penerjemah resmi (menurut pengalaman, penerjemahan dokumen ini bisa dilakukan setelah ada info resmi diterimanya sebagai mahasiswa UIM. Tapi kalau mau langsung diterjemahkan tidak mengapa asal dilakukan di kantor penerjemah resmi. Dan asal tahu saja penerjemahan dokumen resmi ini ga murah, jadi disarankan supaya penerjemahan dilakukan kalau anda sudah positif diumumkan sebagai penerima beasiswa). 

(sumber: website resmi UIM dengan beberapa penambahan)


Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh Pemohon Beasiswa
1. Laki-laki beragama Islam (UIM hanya menerima mahasiswa laki-laki)
2. Berkelakuan baik dan berjanji untuk mentaati semua Peraturan Universitas.
3. Lulus tes kesehatan (yang dilakukan oleh pihak yang ditunjuk UIM).
4. Lulus tes yang diadakan oleh otoritas yang bersangkutan (dikenal dengan muqobalah atau interview).
5. Memiliki ijazah SMU atau yang setara dengannya dari dalam Saudi ataupun dari luar Saudi.
6. Ijazah dikeluarkan oleh Sekolah Negeri atau sekolah yang telah diakui oleh Universitas Islam Madinah.
7. Berkomitmen fokus penuh untuk belajar.
8. Masa lulus dari SMU tidak lebih dari lima tahun.
9. Usia tidak melebihi 25 tahun ketika memulai belajar di Universitas Islam Madinah.
10. Bagi yang ingin kuliah di Fakultas Al-Qur'an harus sudah hafal Al-Qur'an 30 juz.
11. Melengkapi persyaratan-persyaratan lain yang ditentukan oleh Dewan Universitas Islam Madinah yang diumumkan saat pendaftaran.
12. Bagi pemohon yang Ijazah SMU-nya dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Kerajaan Saudi Arabia, ia harus memiliki sertifikat lulus uji kemampuan.


Kemudian setelah melengkapi seluruh pendaftaran secara online maka akan mendapat roqm tholab (nomor kode pendaftaran). Simpan baik-baik nomor kode tersebut (kalau bisa di-print) karena akan digunakan untuk melihat hasil pengumumannya satu tahun yang akan datang dan juga untuk mengikuti tes muqobalah yang akan diselenggarakan.


Tes Muqobalah merupakan semacam tes interview yang dilakukan oleh beberapa dosen UIM. Tes muqobalah bisa dilakukan di 2 tempat
1. Langsung di kampus UIM. Bagi anda yang memiliki kelebihan rezeki, anda bisa pergi umroh dan sekalian langsung datang ke UIM untuk tes muqobalah (dan 'katanya' moqobalah langsung di Madinah memiliki peluang diterima lebih besar). Jangan lupa untuk membawa seluruh dokumen (dokumen asli, FC, dan terjemahannya).
2. Beberapa tempat yang ditunjuk pihak UIM. Adapun di Indonesia, biasanya setiap tahun diadakan muqobalah di beberapa tempat (silahkan untuk mengupdate info tempat muqobalah setiap tahunnya). Dan biasanya tes muqobalah diadakan setelah acara dauroh ilmiyyah selama beberapa minggu. Pada tes muqobalah di Indonesia, anda tidak perlu membawa seluruh dokumen persyaratan, cukup membawa istimaroh roqm tholab saja. 

Contoh Istimaroh Roqm Tholab

Pertanyaan yang diajukan pada saat muqobalah biasanya berkisar pada masalah dasar-dasar Islam (seperti: rukun Islam, rukun iman, akidah), permasalahan fiqh sederhana, hafalan qur'an, dan tes baca-tulis Arab.

Menurut pengalaman pribadi saya, tes-tes tersebut tidak selalu berpengaruh pada hasil kelulusan. Karena beberapa pengalaman yang saya ketahui dari peserta muqobalah lain dimana ia mampu menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan syaikh dengan baik (bahkan beberapa sampai membuat sang syaikh kagum) namun ternyata dia tidak lolos. Dan ada pula peserta yang tidak bisa berbahasa Arab atau kemampuan berbahasa Arabnya kurang namun pada akhirnya ia lolos. Akan tetapi hal tersebut tidak selalu terjadi, maka mencari patokan tolak ukur kelulusan seorang pemohon menjadi sulit.
Ada tips yang bisa saya sarankan, ceritakanlah kepada syaikh penguji hal-hal yang menyebabkan anda harus bisa belajar di UIM dan tunjukkan tekad bahwa anda sungguh-sungguh ingin belajar di UIM. Kalau beruntung, si syaikh penguji akan terketuk hatinya dan menulis 'rekomendasi' khusus untuk anda :)
Pengumuman penerima beasiswa diadakan setahun setelah tes muqobalah berlangsung dan diumumkan di website UIM http://admission.iu.edu.sa/IuAbroadInquery.aspx
Jadi selama setahun masa penantian perbanyaklah do'a agar Allah memberi taufiq tuk belajar di tanah nabi, karena faktor terbesar diterimanya di UIM hanyalah taufiq Allah ta'ala.


Berlanjut ke "Catatan Perjalanan Menuju Madinah"

Catatan Syaikh Anis Thohir Untuk Para Mujahid Baru

Suatu hari, seperti biasanya, Syaikh Dr. Anis Thohir Al-Andunisiy sedang mengisi kajian di salah satu halaqah masjid nabawi ba'da maghrib.

Sedikit memperkenalkan beliau, adalah Syaikh Dr. Anis bin Ahmad bin Thohir Al-Andunisiy merupakan seorang ulama ahli hadits dan guru besar di fakultas hadits Universitas Islam Madinah (UIM). Selain mengajar di UIM beliau juga memiliki halaqah kajian berbagai kitab di masjid nabawi. Uniknya, ternyata beliau merupakan keturunan Indonesia lho. Namun sayangnya beliau tidak bisa berbahasa Indonesia karena beliau lahir di Arab sini.

Kembali ke pembahasan. Setelah selesai pembahasan kajian malam itu, maka beliau seperti biasa hendak membuka sesi tanya jawab. Namun sepertinya beliau teringat sesuatu lalu menghentikan sesi tanya jawab.

"Di penghujung kajian pertama kita ini, setelah liburan musim panas yang panjang, saya mengucapkan selamat datang kembali para penuntut ilmu syar'i, para mujahid fii sabilillah, para dai ilallah baik yang lama maupun yang baru datang. Selamat datang kembali di medan jihad menuntut ilmu." sambut beliau ramah.

Kemudian beliau menyebutkan beberapa poin yang sepatutnya diperhatikan oleh para mujahid baru.

-1. إتقوا الله يعلمكم  

(Ittaqullah Yu'allimukum)
Bertaqwalah kepada Allah, takutlah kepada Nya saat di keramaian maupun sendirian. Ingatlah bahwa Allah senatiasa melihat dimanapun kalian berada. Maka apabila kalian telah menunaikan hak Allah niscaya Ia akan membukakan bagi kalian pintu-pintu keberkahan ilmu.

-2. أصلح بينكم و بين الله

(Aslih Bainakum wa Bainallahi)
Perbaiki dan perbagus hubungan antar sesama maupun hubungan kepada Allah Ta'ala.

-3. الصاحب الساحب

(As-Soohib As-Saahib)
Sahabatmu, teman yang engkau pilih itu akan mempengaruhimu. Jika engkau memilih teman yang salih maka mereka akan membawamu kepada ketaatan. Namun apabila engkau memilih teman yang buruk niscaya mereka kan menyeretmu kedalam keburukan pula. Maka berhati-hatilah memilih teman, berhati-hatilah mencari sahabat karena mereka merupakan citra dirimu dan agamamu.
Ingatlah sabda Rasulullah -shallallahu'alaihi wasallam- bahwa seseorang berada di atas agama sahabatnya.

Kemudian saat hendak melanjutkan ke poin berikutnya, qadarullah, adzan Isya' berkumandang dan terhentilah halaqah majelis beliau. Maka sampai disini sajalah sambutan beliau tuk para mujahid baru.